Teknologi Tidak Harus “Membumi”, Tetapi Harus Relevan dengan Realitas yang Sudah Berubah

TRI FEBRIANSAH

Author

Recent 4 Min Read
Teknologi Tidak Harus “Membumi”, Tetapi Harus Relevan dengan Realitas yang Sudah Berubah

Ada satu pola pikir yang menurut saya mulai perlu dikritisi secara lebih jujur dalam diskusi tentang inovasi dan teknologi hari ini: anggapan bahwa sesuatu baru dianggap baik jika terlihat “membumi”, dekat dengan pola lama, sederhana secara tradisional, dan langsung terlihat familiar bagi masyarakat.

Sekilas narasi ini terdengar bijak. Tetapi kalau dipikir lebih dalam, pola pikir seperti ini justru bisa menjadi jebakan besar yang membuat masyarakat terus tertahan di konteks lama, sementara dunia sudah berubah jauh lebih cepat.

Karena masalahnya, realitas hari ini memang sudah tidak sama lagi.

Kondisi tanah berubah. Iklim berubah. Pola musim berubah. Tekanan populasi meningkat. Kontaminasi lingkungan meningkat. Krisis pangan mulai muncul. Persaingan global berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Artinya, tantangan yang dihadapi manusia hari ini juga sudah berbeda total dibanding beberapa dekade lalu.

Tetapi anehnya, masih banyak orang yang ingin menyelesaikan masalah baru menggunakan pola pikir lama hanya karena dianggap lebih “dekat dengan masyarakat”.

Padahal relevansi bukan tentang mempertahankan masa lalu sepenuhnya. Relevansi adalah kemampuan membaca perubahan sebelum perubahan itu benar-benar menjadi krisis.

Dan menurut saya, di sinilah teknologi seharusnya hadir.

Bukan sekadar menjadi alat modernisasi kosong. Bukan alat untuk terlihat futuristik. Tetapi sebagai instrumen antisipasi terhadap dunia yang memang sedang berubah.

Karena salah satu kesalahan terbesar manusia hari ini adalah terlalu fokus menyelesaikan masalah yang sudah terlihat, tetapi gagal membaca masalah yang sedang datang.

Kita terlalu sibuk bereaksi, bukan memprediksi.

Padahal teknologi yang benar-benar relevan justru bukan teknologi yang hanya bekerja untuk hari ini, tetapi teknologi yang membantu manusia tetap bertahan di masa depan.

Misalnya dalam pertanian.

Sering kali ketika muncul pendekatan berbasis sensor, data tanah, AI, prediksi cuaca, monitoring unsur hara, atau sistem digitalisasi pertanian, respons yang muncul adalah: “itu terlalu modern”, “tidak membumi”, “masyarakat belum butuh”.

Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah kondisi pertanian hari ini masih sama seperti dulu?

Jawabannya jelas tidak.

Tanah hari ini sudah terlalu lama menerima intervensi kimia. Pola hujan semakin kacau. Hama berkembang berbeda. Produktivitas ditekan kebutuhan pangan yang terus meningkat. Air semakin terbatas. Dan ketidakpastian iklim semakin tinggi.

Artinya, mempertahankan pendekatan lama tanpa kemampuan membaca perubahan justru bisa jauh lebih berbahaya.

Karena dunia tidak berhenti berubah hanya karena manusia merasa nyaman dengan pola lama.

Dan menurut saya, ini yang sering gagal dipahami banyak orang ketika melihat inovasi.

Teknologi masa depan memang sering terlihat “tidak membumi” pada awalnya, karena ia lahir untuk menjawab realitas yang bahkan belum sepenuhnya disadari banyak orang hari ini.

Orang yang berpikir beberapa langkah ke depan hampir selalu terlihat aneh di awal. Terlalu futuristik. Terlalu kompleks. Terlalu berbeda. Terlalu cepat.

Padahal sering kali mereka hanya membaca arah perubahan lebih dulu dibanding yang lain.

Karena realitasnya, teknologi yang hanya relevan dengan kondisi hari ini akan cepat usang. Sementara teknologi yang mampu membaca pola masa depan justru memiliki peluang bertahan jauh lebih lama.

Tetapi di sisi lain, saya juga setuju bahwa teknologi tidak boleh kehilangan konteks manusia.

Dan ini yang sering salah dipahami.

Mengkritik teknologi yang tidak relevan dengan kondisi lapangan itu benar. Tetapi menolak kebaruan hanya karena belum familiar juga sama sempitnya.

Karena teknologi memang tidak harus selalu terlihat sederhana secara tradisional agar dianggap dekat dengan masyarakat. Yang lebih penting adalah: apakah teknologi itu benar-benar membantu manusia menghadapi realitas baru yang semakin kompleks?

Sebab dunia hari ini tidak membutuhkan romantisasi masa lalu tanpa adaptasi. Tetapi juga tidak membutuhkan modernisasi kosong tanpa pemahaman konteks.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan menjembatani keduanya.

Pengetahuan lokal tetap penting. Nilai ekologis tetap penting. Pengalaman lapangan tetap penting.

Tetapi semua itu juga perlu diperkuat dengan data, prediksi, mitigasi, dan pendekatan yang lebih presisi agar manusia tidak terus tertinggal menghadapi perubahan zaman.

Karena ancaman terbesar hari ini bukan teknologi yang terlalu maju.

Ancaman terbesarnya justru pola pikir yang terlalu nyaman dengan cara lama sampai gagal membaca bahwa dunia di sekitarnya sudah berubah total.

Dan sejarah selalu menunjukkan hal yang sama: mereka yang dianggap “terlalu jauh berpikir” di awal sering kali justru sedang membaca masa depan lebih cepat dibanding yang lain.

Written By

TRI FEBRIANSAH

Kontributor aktif Yota Adiwidya Center yang berfokus pada narasi pembangunan berkelanjutan dan inovasi teknologi untuk kemanusiaan.

#OpiniPengguna