Kolaborasi Pentahelix: Antara Seremoni Program dan Penyelesaian Akar Masalah
TRI FEBRIANSAH
Author
Di tengah masifnya program sosial, pemberdayaan masyarakat, transformasi digital, hingga pembangunan berkelanjutan yang terus digaungkan, muncul satu pertanyaan mendasar: mengapa banyak program terlihat aktif, tetapi dampaknya belum benar-benar menyentuh akar persoalan masyarakat?
Berbagai kebijakan dan program sering kali hadir dengan narasi besar, jargon inovasi, dan target yang ambisius. Namun dalam praktiknya, sebagian masih berhenti pada level kegiatan, belum sampai pada perubahan sistemik. Program berjalan, laporan tersusun, dokumentasi lengkap, tetapi masyarakat di lapangan masih menghadapi persoalan yang sama dari tahun ke tahun. Ini bukan semata soal kurangnya anggaran atau rendahnya semangat pelaksana, melainkan adanya persoalan mendasar dalam pola kolaborasi dan pendekatan pembangunan itu sendiri.
Konsep pentahelix sebenarnya lahir sebagai jawaban atas kompleksitas persoalan sosial modern. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media seharusnya mampu membangun ekosistem penyelesaian masalah yang lebih utuh. Sayangnya, dalam banyak implementasi, hubungan antaraktor ini masih bersifat simbolik dan sektoral.
Akademisi misalnya, sering hanya hadir sebagai penyusun kajian atau pemberi legitimasi ilmiah terhadap program yang sudah dirancang sebelumnya. Penelitian yang dilakukan di kampus banyak berhenti sebagai publikasi atau luaran administratif, tanpa integrasi nyata dengan kebutuhan masyarakat. Padahal, perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual yang sangat besar untuk menjadi pusat inovasi sosial, teknologi tepat guna, hingga perumusan kebijakan berbasis data.
Di sisi lain, pemerintah sering terjebak pada orientasi jangka pendek dan target administratif. Program harus cepat terlihat hasilnya, mudah dipublikasikan, dan sesuai indikator pelaporan. Akibatnya, pendekatan yang digunakan cenderung seragam dan kurang adaptif terhadap konteks lokal. Padahal setiap wilayah memiliki karakter sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan yang berbeda.
Sektor swasta pun tidak jarang masih memandang program sosial sebatas aktivitas corporate social responsibility yang bersifat insidental. Banyak kegiatan dilakukan untuk memenuhi citra keberlanjutan, tetapi belum terintegrasi dengan pembangunan ekosistem masyarakat secara jangka panjang. Sementara komunitas lokal, yang justru paling memahami kondisi lapangan, sering hanya dijadikan objek program, bukan mitra utama dalam pengambilan keputusan.
Di sinilah letak persoalan paling mendasar: pembangunan masih terlalu sering dilakukan untuk masyarakat, bukan bersama masyarakat.
Padahal penyelesaian masalah sosial tidak bisa dilakukan dengan pendekatan tunggal. Persoalan kemiskinan, pendidikan, lingkungan, ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga pengangguran merupakan persoalan multidimensi yang membutuhkan integrasi lintas ilmu dan lintas sektor. Dibutuhkan model kolaborasi yang tidak hanya formal di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dalam praktik.
Kolaborasi pentahelix yang ideal seharusnya berjalan dalam pembagian peran yang jelas dan setara. Akademisi tidak hanya meneliti, tetapi ikut mendampingi implementasi berbasis riset. Pemerintah tidak hanya menjadi regulator, tetapi fasilitator ekosistem. Dunia usaha tidak hanya memberi bantuan, tetapi membuka akses pasar, teknologi, dan keberlanjutan ekonomi. Media tidak hanya meliput seremoni, tetapi mengawal transparansi dan edukasi publik. Sedangkan masyarakat harus ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan.
Selain itu, pendekatan pembangunan juga perlu bergeser dari sekadar proyek menjadi proses transformasi sosial. Program yang baik bukan yang paling ramai dipublikasikan, melainkan yang mampu membangun kapasitas masyarakat agar mandiri dalam jangka panjang. Karena dampak sejati sering kali tidak lahir dari kegiatan besar yang sesaat, tetapi dari pendampingan yang konsisten dan kolaborasi yang tumbuh secara organik.
Sudah saatnya kebijakan dan program sosial tidak lagi hanya berorientasi pada output administratif, tetapi pada kebermanfaatan nyata yang dapat dirasakan masyarakat hingga level akar rumput. Sebab keberhasilan pembangunan bukan diukur dari banyaknya program yang dijalankan, melainkan sejauh mana masyarakat benar-benar mengalami perubahan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Dan mungkin, tantangan terbesar hari ini bukan kurangnya program atau minimnya sumber daya. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana seluruh elemen mampu keluar dari ego sektoral, lalu benar-benar duduk bersama untuk membangun solusi yang kontekstual, partisipatif, dan berkelanjutan.
TRI FEBRIANSAH
Kontributor aktif Yota Adiwidya Center yang berfokus pada narasi pembangunan berkelanjutan dan inovasi teknologi untuk kemanusiaan.